Header Ads

Sungguh Sadis dan Kejam! Bekantan Imut Ini Dibunuh Lalu Fotonya Dipajang di Facebook

Foto kematian seekor bekantan di dalam hutan Kalimantan sempat ramai dibicarakan di dunia maya beberapa waktu lalu. Sang bekatan mati dibunuh sekelompok pemuda tak bertanggung jawab. Ironisnya, para pembunuh itu dengan bangga memosting foto kematian sang bekantan di Facebook. Sontak, para netizen di Facebook mengecam tindakan tidak beradab ini. Siapa sebenarnya mereka? Setelah ditelusuri, petugas mulai menemukan identitas mereka.

Petugas bergerak cepat begitu mengetahui kasus pembunuhan ini. Berdasarkan hasil penelusuran tim investigasi dari personil BKSDA Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang dan Satuan Reserse Kriminal dan intelijen Polsek Teluk Keramat Kabupaten Sambas, keenam pemuda itu diketahui berasal dari Dusun Semantir, Desa Mekar Sekuntum, Kecamatan Galing, Kabupaten Sambas.

Mereka adalah Adam (memakai topi koboi hitam), Apri (telanjang dada celana merah), Ato (kaos putih celana biru); Inal (topi terbalik berkaos hijau), Intat (telanjang dada dan celana hitam), dan Bayong (jaket garis-garis putih).

Pembunuhan bekatan ini memancing banyak kecaman karena bekatan termasuk hewan yang dilindungi. Bekantan adalah salah satu satwa endemik dari Kalimantan yang populasinya mulai menipis. Menurut data terbaru dari World Wide Fund (WWF), populasi bekantan di Kalimantan tinggal tersisa 250 sampai 300 ekor. Yang lebih kejam lagi, daging mereka diburu hanya untuk dijadikan umpan memancing kepiting di daerah hutan mangrove. Sedih…
(foto:  www.hipwee.com)
Polisi terus melacak keberadaan keenamnya dan berkomitmen mengamankan mereka, Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Sustyo Iriyono.

CITES adalah konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar spesies terancam, yang bertujuan melindungi tumbuhan dan satwa liar dari perdagangan internasional. Dalam daftar CITES ditulis secara tegas bahwa bekatan tidak boleh diperjual-belikan karena mereka termasuk satwa yang dilindungi. Selain mengancam populasi bekantan, perburuan binatang seperti ini juga akan merusak ekosistem setempat. Diperjual-belikan aja nggak boleh, apalagi dibunuh!

April 2016 lalu, dua ekor beruk juga menjadi korban tangan manusia yang tak bertanggung jawab. Seorang bernama Abdul dengan sengaja memosting foto dua ekor beruk yang mati dibunuh dan diikat di sepeda motor. Yang lebih sadis, dia memberi judul foto itu “beruk pun pandai merokok”. Walaupun cuma memosting foto, Abdul segera diamankan petugas karena sikapnya dinilai telah menimbulkan keresahan masyarakat.

Menanggapi kasus yang sering terjadi belakangan ini, sudah saatnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan ditingkatkan. Sosialisasi LSM kepada masyarakat saja tidak cukup, peran serta pemerintah sangat ditunggu. Mungkin bisa lewat peningkatan patroli hutan untuk membatasi perburuan liar atau membatasi alih fungsi lahan untuk perkebunan dan industri lainnya. Sekitar 55 persen hutan di Kalimantan sudah rusak. Ini waktu yang tepat buat kita untuk bergerak. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?

Setiap orang dilarang untuk menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi (salah satunya bekatan) dalam keadaan hidup. Barang siapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan pasal 21 ayat 2 tersebut dapat dipidana dengan ancaman kurungan paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 21 ayat 2
Dalam ajaran agama mana pun, membunuh adalah perbuatan yang keji. Bekatan, beruk, atau hewan lainnya juga makhluk Tuhan yang punya hak untuk hidup. Jadi apapun alasannya, pembunuhan terhadap mereka tidak bisa dibenarkan. Satu hal lagi, gunakanlah sosial media dengan bijak. Berbagi cerita inspiratif tentang pelestarian lingkungan pasti akan lebih menarik dan bermanfaat buat orang banyak, daripada pamer kejahatan yang justru akan menimbulkan keresahan.
Sumber: www.hipwee.com

No comments

Powered by Blogger.
IBX58B48398C06B1